Deng Haoran menatap Lynx, lalu Ou Ruoyun yang berdiri di samping dengan wajah tegang. Ia menghela napas berat, lalu menepuk bahu gadis itu.

"Yun'er, Apa kamu yakin dengan keputusanmu?"

Dengan wajah tegas dan tatapan membara, Ou Ruoyun menatap Deng Haoran dan menganggukkan kepala,"Aku sangat yakin kepala desa. Mohon ijinkan aku untuk ikut menemui paman Bao."

Melihat keseriusan di wajahnya, Deng Haoran terdiam memikirkan berbagai pertimbangan. Sesaat kemudian Deng Haoran tersenyum, "Kalau itu memang keputusanmu, Yun’er, aku tidak akan melarang. Tapi kau harus ingat, perjalanan ini sangat berbahaya. Sekali melangkah, kau tidak bisa lagi mundur. Kau yakin sanggup menanggung risikonya?"

Ou Ruoyun menggenggam erat pakaiannya di depan dada, matanya bergetar namun tekadnya tidak goyah. "Aku sudah memutuskan, Kepala Desa. Selama Paman Bao masih hidup di luar sana, aku harus menemuinya."

"Memang sudah sepantasnya jika anak muda mencari pengalaman di luar sana. Pemahamanmu tentang teknik alchemist sudah cukup, hanya perlu berlatih dan meningkatkan kultivasi agar dapat menjadi alchemist yang baik. Aku akan membantumu berbicara dengan keluargamu." jawab Deng Haoran.

Lynx mengangguk. "Baik. Kalau begitu, kita berangkat secepatnya. Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama."

"Kalau begitu, aku akan berbicara dengan keluarganya, juga menyiapkan beberapa bekal perjalanan dan surat pengantar untuk Sekte Akar Kehidupan untuk melengkapi tanda pengenal milikmu," ujar Deng Haoran. "Meskipun Bao Zhihui mungkin tidak ada di sana, paling tidak kalian bisa mendapatkan informasi resmi dari pihak Sekte saat melalui sekte tersebut. Itu bisa membuka jalan untuk ke Desa Fengmu."

Tak lama kemudian, seorang penduduk desa membawa masuk bungkusan kain berisi ramuan obat, makanan kering, serta kantong berisi batu roh tingkat rendah. Deng Haoran menyerahkan semuanya kepada Ou Ruoyun.

"Yun'er, kamu harus bisa jaga diri dan segera kembali. Ikuti instruksi tuan dan nyonya Xiao. Ini tidak banyak, tapi semoga membantu perjalanan kalian," kata Deng Haoran sambil menatap Lynx. Dia sengaja memberikannya kepada Ou Youran karena merasa Lynx sudah memiliki lebih banyak daripada mereka. Selain itu, Deng Haoran mengira perjalan mereka juga akan bersama Leena karena perjalanan jauh dan berbahaya tidak mungkin dilakukan tanpa istrinya yang lebih kuat mendampingi.  

Lynx menerimanya dengan hormat. "Terima kasih, Tuan Deng. Aku berhutang budi. Kuharap anda bisa tetap membantu kami menemukan cara menyelamatkan penduduk kami"

Deng Haoran menatap Lynx dalam-dalam. "Tuan Xiao, jangan khawatir, aku pasti akan berusaha sekuatnya. Selain itu, aku mempercayakan Yun'er kepadamu. Tapi berjanjilah satu hal, apapun yang terjadi, lindungi Yun’er. Dia mungkin terlihat rapuh, tapi hatinya sudah hancur berkali-kali. Jangan biarkan dia merasa tersakiti lagi."

Lynx menatap Ou Ruoyun yang menunduk diam, lalu kembali menatap Deng Haoran. "Aku berjanji. Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan dia terluka."

Setelah semua persiapan selesai, Lynx, bersama Ou Ruoyun, meninggalkan Desa Linxi di antar oleh Deng Haoran dan penduduk desa.

Tidak beberapa jauh dari Desa Linxi, setelah memastikan tidak ada penduduk yang memperhatikan mereka lagi, Lynx menoleh sekilas pada Ou Ruoyun yang berjalan di sampingnya dengan wajah tegang.

"Ruoyun," suara Lynx terdengar tenang, "kau bilang Bao Zhihui tidak ada di Sekte Akar Kehidupan tapi kemungkinan besar pergi ke Desa Fengmu. Apakah kau tahu letak pasti Desa Fengmu itu?"

Ou Ruoyun menggeleng pelan. "Tidak… aku hanya mendengar namanya. Paman Bao tidak sempat menjelaskan lebih jauh padaku. Yang aku tahu hanya arah umumnya ke timur dari Sekte Akar Kehidupan."

Lynx mengangguk. "Baiklah. Itu sudah cukup untuk sementara. Berarti kita harus ke Sekte Akar Kehidupan terlebih dahulu." Ia kemudian berhenti melangkah, menatap Ou Ruoyun dengan tatapan serius.

"Nona Ou, aku perlu kau berjanji satu hal. Apa pun yang kau lihat sebentar lagi, kau tidak boleh menceritakan kepada siapa pun. Bahkan kepada orang yang paling kau percaya sekalipun. Ini adalah rahasia hidupku."

Ou Ruoyun tertegun. "Rahasia… hidupmu?"

"Ya," jawab Lynx mantap. "Dan satu hal lagi, jangan terkejut."

Sebelum gadis itu sempat bertanya lebih jauh, Lynx mengucapkan satu kata, suaranya dalam dan bergema,

"Berubah."

Sekejap, sabuk di pinggang Lynx menyala merah menyala. Serat-serat nano bercahaya hijau zamrud mengalir deras, menyelimuti tubuh bagian kanan. Sisi kiri tubuhnya ditutupi oleh serat hitam pekat, membentuk armor hidup yang bergerak seolah bernapas. Helm berkilau dengan mata merah menyala menutupi wajahnya, sementara garis metalik simetris membelah tubuhnya, memancarkan aura kekuatan dan keseimbangan energi.

Gelang bermotif di pergelangan tangan dan kaki berpendar, menyatu dengan armor yang kini sempurna melapisi tubuh Lynx. Sosoknya menjelma menjadi perpaduan mistis antara kehidupan dan kegelapan.

Ou Ruoyun menjerit kecil, tubuhnya mundur selangkah, wajahnya pucat ketakutan. "I-ini… apa…?"

"Tenanglah," ujar Lynx dengan suara yang kini terdengar bergema dari balik helm. Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan pandangan gadis itu. "Jangan takut. Ini adalah rahasia kekuatanku. Tidak ada yang tahu selain orang-orang terdekatku. Aku mempercayaimu karena kau ikut bersamaku."

Ou Ruoyun terdiam, napasnya tersengal, namun perlahan mulai menenangkan diri setelah mendengar nada suara Lynx yang tetap hangat meski dari balik armor menyeramkan itu.

"Percayalah padaku, aku tidak akan menyakitimu," lanjut Lynx lembut.

Ou Ruoyun menelan ludah, lalu mengangguk pelan. "Baik… aku tidak akan menceritakan kepada siapa pun."

Lynx tersenyum samar meski tak terlihat dari balik helmnya. "Bagus. Aku perlu menggunakan ini untuk mempercepat perjalanan kita. Selain itu saat aku menggunakan ini, kamu bisa menyebutku dengan Plasura."

Ou Ruoyun dengan wajah takut dan bingung, menganggukkan kepala tanpa suara.

Dengan satu gerakan ringan, Lynx mengangkat tubuh gadis itu dan menggendongnya erat. Aura dari armor hidupnya bergetar, lalu dalam sekejap tubuhnya melesat ke udara.

"KYAA!" Ou Ruoyun spontan memekik sambil memeluk leher Lynx erat-erat. Lynx melindungi tubuhnya agar kecepatan terbangnya tidak menyakiti Ou Ruoyun namun meski tidak menyakiti, Ou Ruoyun tetap dapat merasakan angin menampar wajah, membuatnya semakin ketakutan.

"Tenang saja. Aku tidak akan menjatuhkanmu," ujar Lynx menenangkan, memperlambat sedikit kecepatannya agar Ou Ruoyun bisa menyesuaikan diri. Selama perjalanan ia terus berbicara pelan, mencoba mengalihkan rasa takut gadis itu dengan percakapan ringan sambil menanyakan arah menuju Sekte Akar Kehidupan.

Beberapa menit kemudian, mereka mendarat di sebuah lembah yang dipenuhi kabut tipis. Di hadapan mereka menjulang megah kaki gunung yang dipenuhi tangga batu berliku, menuju ke puncak di mana Sekte Akar Kehidupan berdiri.

Lynx meletakkan Ou Ruoyun dengan hati-hati. Dengan satu kata lagi, cahaya merah dari sabuknya meredup, serat-serat nano perlahan surut ke dalam tubuh, dan wujudnya kembali menjadi manusia biasa.

Ia menarik napas panjang, menepuk debu dari pakaiannya. "Sekarang kita sudah sampai. Ingat, jangan pernah membicarakan apa yang kau lihat tadi. Aku harus kembali seperti biasa, karena di sini aku perlu mencari petunjuk tentang Bao Zhihui… atau Desa Fengmu."

Ou Ruoyun masih terlihat gemetar, tapi kali ini ia mengangguk dengan mantap. "Aku mengerti, Tuan Xiao. Rahasiamu aman bersamaku."

Suasana di depan gerbang sekte terasa tegang. Beberapa penjaga berdiri berbaris, tombak mereka berkilat terkena sinar matahari. Lynx dan Ou Ruoyun melangkah tenang mendekati, tatapan para penjaga langsung tajam penuh kewaspadaan.

"Kami ingin bertanya tentang Alchemist bernama tuan Bao Zhihui," Tanya Lynx dengan suara terdengar datar namun membawa tekanan halus, membuat beberapa penjaga tanpa sadar menelan ludah.

"Siapa kalian? Ada urusan apa kalian mencari Tuan Bao? Tunjukkan tanda pengenal kalian." kata salah satu penjaga.

"Kami kenalannya dari desa Linxi," jawab Ou Ruoyun dengan tubuh masih gemetar karena rasa takut akibat perjalanan masih menyelimuti hatinya. Seumur hidup baru itu pertama kalinya dia mengalami hal demikian, melihat seseorang berubah bentuk dan dalam beberapa hela napas sudah tiba di tujuan, perjalanan panjang yang seharusnya di tempuh sekitar sebulan perjalanan. 

Salah satu penjaga lainnya memandang Ou Ruoyun dengan curiga lalu menatap kiri dan kanan dan berbisik kepada salah satu temannya, "Kita harus waspada dan tidak bisa mengatakannya. Itu demi keselamatan tuan Bao Zhihui. Jika kita sembarangan membuka mulut, bisa saja nyawanya terancam dan kita mendapatkan hukuman."

